Feeds:
Posts
Comments

Serendipity

how-to-make-a-wish-come-trueSebulan terakhir ini aku sempat berpikir kalau aku ini sebenarnya indigo. Ya seandainya bukan indigo tulen, paling tidak mungkin indigo “KW”. Betapa tidak, rasa-rasanya banyak hal terjadi di dalam hidupku sesuai dengan yang aku bayangkan.

Dulu aku pernah mengagumi seorang penulis dan membayangkan jika aku dapat kenal dekat dengannya. Penulis ini memiliki banyak sekali fans. Suatu hari tanpa sengaja kami bertemu di sebuah acara, kami berkenalan, mengobrol, sempat dekat, dan akhirnya kami berteman sampai sekarang. Continue Reading »

Advertisements

large“Sabtu ini kamu kosong?”

Tatapanku beralih dari layar gawai ke wajahnya yang menunduk berkonsentrasi penuh mengaduk bakmi ayam yang penuh dengan sambal. Entah bagaimana lambungnya mengatasi rasa pedas itu, aku yang melihatnya saja selalu mengernyit menahan ngeri.

Aku memeriksa jadwal, “Hmm, ada apa?”

Kulihat rona wajahnya berubah ceria. Bibirnya yang merah kepedasan merekah. “Aku perform Sabtu ini. Habis itu lanjut lihat pementasan. Kamu bisa temani aku?”

“Pementasan apa? di mana?” Aku bertanya sekadarnya.

“Tentang perempuan. Di Goethe, Menteng. Bisa ya, plisss…” Tangannya menarik lenganku, merajuk bagai anak kecil yang meminta dibelikan mainan oleh ibunya.

Continue Reading »

Ground Zero

depositphotos_89154032-stock-photo-coffee-cup-on-wood-tableButiran pasir basah lekat menempel di alas sneaker kesayanganku. Seharusnya tadi aku memakai sandal jepit seperti biasanya saja, toh tak ada yang akan sadar akan kehadiranku.

Mataku menyipit memandang sekeliling, sinar matahari pagi ini teramat silau. Pasti karena semalam hujan turun dengan sangat deras, pikirku. Kuarahkan pandanganku tepat ke arah jam tujuh dari tempatku berdiri.

Tempat itu masih sama, hanya sedikit berbeda di dekorasinya, namun sekilas masih belum berubah. Kursi pengunjung yang dulu ramai, sekarang hanya diisi beberapa orang yang tetap duduk di sana hanya sekadar menikmati suasana sekitarnya atau bahkan hanya duduk termenung sambil mengingat kenangan yang mungkin pernah mereka dapatkan dari tempat ini.

Continue Reading »

Heartbeat Song

This is my heartbeat song and I’m gonna play it
Been so long I forgot how to turn it up up up up all night long
Oh up up all night long

You, where the hell did you come from?
You’re a different, different kind of fun
And I’m so used to feeling numb
Now, I got pins and needles on my tongue
Anticipating what’s to come
Like a finger on a loaded gun

I can feel it rising
Temperature inside me
Haven’t felt it for a lifetime

This is my heartbeat song and I’m gonna play it
Been so long I forgot how to turn it up up up up all night long
Oh up up all night long
This is my heartbeat song and I’m gonna play it
Turned it on
But I know you can take it up up up up all night long
Oh up up all night long (all night long)

I, I wasn’t even gonna go out
But I never would have had a doubt
If I have known where I’d be now

Your hands on my hips
And my kiss on your lips
Oh, I could do this for a lifetime

This is my heartbeat song and I’m gonna play it
Been so long I forgot how to turn it up up up up all night long
Oh, up up all night long
This is my heartbeat song and I’m gonna play it
Turned it on
But I know you can take it up up up up all night long
Oh up up all night long

Until tonight I only dreamed about you
I can’t believe I ever breathed without you
Baby, you make me feel alive and brand new
Bring it one more time, one more time

This is my heartbeat song and I’m gonna play it
Been so long I forgot how to turn it up up up up all night long
Oh up up all night long
This is my heartbeat song and I’m gonna play it
Turned it on
But I know you can take it up up up up all night long
Oh up up all night long

This is my heartbeat song and I’m gonna play it
Been so long I forgot how to turn it up up up up all night long
Oh up up all night long
This is my heartbeat song and I’m gonna play it
Turned it on
But I know you can take it up up up up all night long
Oh up up all night long

I Let You Go, Z….

4203709869_7177d30b8eSejak delapan bulan lalu saya selalu mengibaratkan hubungan saya dengan Z seperti menunggu seseorang yang tengah sakit dan terbaring koma dan selama beberapa bulan ini hidup dengan  ditunjang alat bantuan medis.

Harapan dan rasa ingin menyerah.

Dua kata itu yang selalu membuat saya bimbang sejak Z memutuskan hubungan kami melalui BBM. Seorang sahabat mengatakan bahwa saya tidak seharusnya bersikap seperti ini. Dan jawaban saya tetap sama. Saya tidak mau menyerah saat ini. Saya hanya butuh sebuah keajaiban. Meskipun berkali-kali saya sesumbar bahwa saya harus melanjutkan hidup, saya tahu bahwa saya tidak bisa “mencabut” semua alat bantu medis yang ada dan membiarkan hubungan saya yang “koma” pergi begitu saja. Tidak, kecuali Z yang ingin pergi, dan saya harus mendengarnya langsung dari mulutnya, tidak melalui BBM.

Continue Reading »

Malaikat itu….

Masih ingat dengan malaikat kecil yang saya temui di sebuah toko buku dan kisahnya saya tuliskan di blog ini? Kalau tidak salah saya menuliskannya sekitar enam tahun yang lalu. Saya selalu percaya bahwa tuhan selalu bekerja melalui berbagai macam cara, termasuk melalui Suci.

Malam itu seharusnya saya berada di Paulaner Brauhaus, memenuhi undangan salah satu klien saya sambil membicarakan strategi yang harus ia lakukan untuk membayar hutang luar negeri perusahaannya. Namun berhubung ia masih harus menyelesaikan beberapa pertemuan dengan tamu-tamu perusahaan, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu saya sambil mencari novel-novel baru sebagai referensi saya untuk menulis. Saya berhenti di rak bagian buku-buku fiksi dan mulai membaca sinopsis satu per satu, sampai saya merasa ada tangan yang ragu-ragu menepuk punggung saya. Saya melihat ke arah sang empunya tangan dan menemukan seorang gadis remaja yang sedang tersenyum ramah. Tanpa sadar dahi saya mengernyit berusaha mengingat apakah saya pernah mengenalnya. Masa teman gue punya anak segede gini? Tua amat ya gue sekarang, ini pikir saya.

“Tante pasti lupa sama aku…” Senyum jahil mengembang di wajahnya.

Saya masih mencoba mengingat-ngingat namanya sambil memaki penyakit pelupa yang belakangan semakin parah.

“Ha ha ha, tante lucu kalau mikir gitu. Aku Suci, tanteeeeee. Yang dulu ngobrol sama tante di tempat ini juga, ya nggak di sini sih tepatnya, di sana tuh.” Jarinya lurus menunjuk ke arah buku-buku komik. Dan sepertinya Suci harus lebih berusaha keras untuk membuat saya mengingat dirinya hingga ia kemudian bersenandung,

Continue Reading »

Friends – 4

Hari ini, ijinkan saya menulis tentang seorang perempuan yang hingga saat ini berhasil membuat blog ini bertahan. Lho, kok bisa? Ya bisa lah, masa bisa dong, duren aja dibelah, bukan dibedong. Oke, jayusan lama. Mari stop sampai di sini.

Perempuan ini mulai menyapa saya di tahun 2009 (kalau saya tidak salah ingat), dan mulai rajin mengisi kolom komentar di tulisan-tulisan saya. Semua tulisan, tanpa terkecuali. Bahkan setelah tidak menulis untuk jangka waktu yang sangat lama dan akhirnya kembali menulis, saya tetap menerima notifikasi untuk menyetujui komentar baru yang masuk. Dan, saya selalu yakin komentar itu pasti datang dari orang yang sama.

Tidak hanya melalui komentar di blog, perempuan ini sangat rajin menyapa saya di email (meskipun hampir tidak pernah saya balas), dan tak pernah lupa memberitahu saya tentang apapun yang ia lakukan sepanjang hari itu melalui jendela YM yang sayangnya baru saya terima ketika pesan yang masuk merupakan pesan offline.

Ada beberapa hal yang sempat terpikirkan oleh saya tentang perempuan ini. Pertama, mungkin dia terobsesi oleh sosok Jo. Kedua, bisa jadi dia kurang kerjaan, jadi berkomunikasi satu arah merupakan hal yang tidak membuat dirinya merasa kecewa karena tidak berbalas. Ketiga, dia menganggap diri saya sebagai buku harian, sehingga dia bisa menceritakan apa saja yang ingin dia ceritakan tanpa merasa perlu saya merespon apapun yang ia ungkapkan. Dan masih banyak pemikiran lain yang kalau saya jabarkan satu per satu akan membuat saya berhasil menulis sebuah novel. Ya saya tahu, saya agak lebay kali ini.

Continue Reading »