Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Easy Reading’ Category

When She Comes

green_leaf-2560x1600“Setelah berkali-kali pacaran-putus-pacaran lagi-putus lagi, apakah kamu masih percaya sama yang namanya cinta, Jo?”

Pertanyaan Renee sejenak membuatku berhenti memotret anak jalanan yang tengah berebut makanan kotak pemberian dari seorang bapak tua penarik gerobak sampah, lalu kembali asyik menekuni kegiatanku. Renee yang telah terbiasa menghadapi sikapku dengan cueknya melanjutkan pertanyaannya.

“Bagaimana kabar mantanmu? Masih saling berkomunikasi?”

Hmm, cukup oke foto-foto hari ini. Lumayan, bisa kupakai untuk blog.

“Jooo!”

Aku meringis. Renee kalap memukuli bahuku.

“Apa-apaan sih kamu?!”

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

Serendipity

how-to-make-a-wish-come-trueSebulan terakhir ini aku sempat berpikir kalau aku ini sebenarnya indigo. Ya seandainya bukan indigo tulen, paling tidak mungkin indigo “KW”. Betapa tidak, rasa-rasanya banyak hal terjadi di dalam hidupku sesuai dengan yang aku bayangkan.

Dulu aku pernah mengagumi seorang penulis dan membayangkan jika aku dapat kenal dekat dengannya. Penulis ini memiliki banyak sekali fans. Suatu hari tanpa sengaja kami bertemu di sebuah acara, kami berkenalan, mengobrol, sempat dekat, dan akhirnya kami berteman sampai sekarang. (more…)

Read Full Post »

Ground Zero

depositphotos_89154032-stock-photo-coffee-cup-on-wood-tableButiran pasir basah lekat menempel di alas sneaker kesayanganku. Seharusnya tadi aku memakai sandal jepit seperti biasanya saja, toh tak ada yang akan sadar akan kehadiranku.

Mataku menyipit memandang sekeliling, sinar matahari pagi ini teramat silau. Pasti karena semalam hujan turun dengan sangat deras, pikirku. Kuarahkan pandanganku tepat ke arah jam tujuh dari tempatku berdiri.

Tempat itu masih sama, hanya sedikit berbeda di dekorasinya, namun sekilas masih belum berubah. Kursi pengunjung yang dulu ramai, sekarang hanya diisi beberapa orang yang tetap duduk di sana hanya sekadar menikmati suasana sekitarnya atau bahkan hanya duduk termenung sambil mengingat kenangan yang mungkin pernah mereka dapatkan dari tempat ini.

(more…)

Read Full Post »

Masih ingat dengan malaikat kecil yang saya temui di sebuah toko buku dan kisahnya saya tuliskan di blog ini? Kalau tidak salah saya menuliskannya sekitar enam tahun yang lalu. Saya selalu percaya bahwa tuhan selalu bekerja melalui berbagai macam cara, termasuk melalui Suci.

Malam itu seharusnya saya berada di Paulaner Brauhaus, memenuhi undangan salah satu klien saya sambil membicarakan strategi yang harus ia lakukan untuk membayar hutang luar negeri perusahaannya. Namun berhubung ia masih harus menyelesaikan beberapa pertemuan dengan tamu-tamu perusahaan, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu saya sambil mencari novel-novel baru sebagai referensi saya untuk menulis. Saya berhenti di rak bagian buku-buku fiksi dan mulai membaca sinopsis satu per satu, sampai saya merasa ada tangan yang ragu-ragu menepuk punggung saya. Saya melihat ke arah sang empunya tangan dan menemukan seorang gadis remaja yang sedang tersenyum ramah. Tanpa sadar dahi saya mengernyit berusaha mengingat apakah saya pernah mengenalnya. Masa teman gue punya anak segede gini? Tua amat ya gue sekarang, ini pikir saya.

“Tante pasti lupa sama aku…” Senyum jahil mengembang di wajahnya.

Saya masih mencoba mengingat-ngingat namanya sambil memaki penyakit pelupa yang belakangan semakin parah.

“Ha ha ha, tante lucu kalau mikir gitu. Aku Suci, tanteeeeee. Yang dulu ngobrol sama tante di tempat ini juga, ya nggak di sini sih tepatnya, di sana tuh.” Jarinya lurus menunjuk ke arah buku-buku komik. Dan sepertinya Suci harus lebih berusaha keras untuk membuat saya mengingat dirinya hingga ia kemudian bersenandung,

(more…)

Read Full Post »

Friends – 4

Hari ini, ijinkan saya menulis tentang seorang perempuan yang hingga saat ini berhasil membuat blog ini bertahan. Lho, kok bisa? Ya bisa lah, masa bisa dong, duren aja dibelah, bukan dibedong. Oke, jayusan lama. Mari stop sampai di sini.

Perempuan ini mulai menyapa saya di tahun 2009 (kalau saya tidak salah ingat), dan mulai rajin mengisi kolom komentar di tulisan-tulisan saya. Semua tulisan, tanpa terkecuali. Bahkan setelah tidak menulis untuk jangka waktu yang sangat lama dan akhirnya kembali menulis, saya tetap menerima notifikasi untuk menyetujui komentar baru yang masuk. Dan, saya selalu yakin komentar itu pasti datang dari orang yang sama.

Tidak hanya melalui komentar di blog, perempuan ini sangat rajin menyapa saya di email (meskipun hampir tidak pernah saya balas), dan tak pernah lupa memberitahu saya tentang apapun yang ia lakukan sepanjang hari itu melalui jendela YM yang sayangnya baru saya terima ketika pesan yang masuk merupakan pesan offline.

Ada beberapa hal yang sempat terpikirkan oleh saya tentang perempuan ini. Pertama, mungkin dia terobsesi oleh sosok Jo. Kedua, bisa jadi dia kurang kerjaan, jadi berkomunikasi satu arah merupakan hal yang tidak membuat dirinya merasa kecewa karena tidak berbalas. Ketiga, dia menganggap diri saya sebagai buku harian, sehingga dia bisa menceritakan apa saja yang ingin dia ceritakan tanpa merasa perlu saya merespon apapun yang ia ungkapkan. Dan masih banyak pemikiran lain yang kalau saya jabarkan satu per satu akan membuat saya berhasil menulis sebuah novel. Ya saya tahu, saya agak lebay kali ini.

(more…)

Read Full Post »

Suatu hari, entah karena kurang kerjaan atau karena tidak ingin terlalu memusingkan kemacetan sepanjang jalan menuju Cipanas, seorang kawan mengusulkan untuk bermain tebak-tebakan. Alasannya sih agar teman kami yang kebagian jatah nyetir tidak mengantuk. Sementara sisa kawan yang lain bersemangat menyetujui, yang keluar dari mulut saya hanya, “Hah?! Masih jaman ya hari gini tebak-tebakan?!?” dan berakhir dengan kedua tangan saya panik melindungi kepala saya dari serbuan tangan sadis mereka.

Awalnya saya mengganggap garing semua pertanyaan dari mereka satu per satu, namun lama kelamaan saya menikmati permainan ini. Apalagi ketika ada yang menjawab secara asal dan tidak pakai mikir, dan semuanya setuju ia dihukum. Hukumannya gak tanggung-tanggung. Disuruh turun ke jalan, memungut satu jenis sampah di jalan raya yang dibuang sembarangan oleh pengguna jalan lain untuk dibawa ke dalam mobil dan ditampung dalam sebuah plastik yang telah kami siapkan. Pramuka banget nggak sih?!? Untungnya saya sedikit cerdas dengan menawarkan diri untuk menggantikan teman yang menyetir secara “supir” tidak akan dihukum meskipun ia tidak menjawab. Saya tidak dapat membayangkan jika saya harus bolak balik keluar masuk mobil ketika pertanyaan yang dilontarkan adalah seputar pemeran film kartun Spongebob secara saya tidak tahu apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh Patrick dan teman-temannya melalui film mereka.

Perasaan saya mulai tidak enak ketika saya menyadari suasana di dalam mobil mulai sedikit hening. Saya sempat berpikir kawan-kawan saya mulai lelah atau bosan dengan permainan ini, namun tiba-tiba terdengar suara Asti.

(more…)

Read Full Post »

Songbird – 1

Insect_exhibit_-_Royal_Ontario_Museum_-_DSC00172“Kenapa kita ke sini sih, Jo?”

“Lho, katanya terserah kemana aja? Aku ajak ke sini eh malah protes…”

“Bukan protes, tapi bingung aja. Museum Zoologi?!? Ngapain juga kita jauh-jauh ke sini cuma liatin hewan?”

“Ya daripada tiap detik liatin angka, sesekali liatin serangga, hehehe…” Sahutku santai menjawab tanda tanya di dalam kepala Sukma.

Terdengar bunyi kerikil ketika ban mobilku bergerak memasuki area parker museum. Sepi. Mungkin karena anak-anak sekolah sudah selesai ujian dan memilih berlibur ke luar kota atau bahkan ke luar negeri.

 “Yuks, kita masuk!” Sukma melangkah malas sambil menutupi wajahnya dari silaunya sinar matahari yang hari itu sangat menyengat.

Memasuki ruang pertama museum, mataku liar menatap koleksi-koleksi hewan diawetkan. Kakiku berpindah dari satu display ke display lainnya.

“Bebi, siniiii! Kumbang yang ini bagus bangetttt!” Aku mematung. Kulihat di depanku ada dua perempuan. Rambutnya sama-sama panjang meskipun yang satu bergaya feminin dan yang lain bergaya andro. Si femme menarik tangan si andro dengan bersemangat. Sang andro dengan sukacita tak kalah bersemangat mengikuti kemanapun tangannya ditarik. Kulihat rona wajah mereka berdua ceria. Another couple? Pikirku. Konsentrasiku terpecah. Sebagian berusaha fokus dengan serangga-serangga yang ada di depanku, sebagian lagi otomatis tertarik menganalisa pasangan itu. Kuperhatikan Sukma yang asyik sendiri mengambil foto-foto di dalam museum.

“Kamu senang?” Sang andro menatap lekat wajah si femme seolah-olah wajah itu akan melumer kalau ia berpaling sepersekian detik saja.

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »