Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Easy Reading’ Category

Masih ingat dengan malaikat kecil yang saya temui di sebuah toko buku dan kisahnya saya tuliskan di blog ini? Kalau tidak salah saya menuliskannya sekitar enam tahun yang lalu. Saya selalu percaya bahwa tuhan selalu bekerja melalui berbagai macam cara, termasuk melalui Suci.

Malam itu seharusnya saya berada di Paulaner Brauhaus, memenuhi undangan salah satu klien saya sambil membicarakan strategi yang harus ia lakukan untuk membayar hutang luar negeri perusahaannya. Namun berhubung ia masih harus menyelesaikan beberapa pertemuan dengan tamu-tamu perusahaan, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu saya sambil mencari novel-novel baru sebagai referensi saya untuk menulis. Saya berhenti di rak bagian buku-buku fiksi dan mulai membaca sinopsis satu per satu, sampai saya merasa ada tangan yang ragu-ragu menepuk punggung saya. Saya melihat ke arah sang empunya tangan dan menemukan seorang gadis remaja yang sedang tersenyum ramah. Tanpa sadar dahi saya mengernyit berusaha mengingat apakah saya pernah mengenalnya. Masa teman gue punya anak segede gini? Tua amat ya gue sekarang, ini pikir saya.

“Tante pasti lupa sama aku…” Senyum jahil mengembang di wajahnya.

Saya masih mencoba mengingat-ngingat namanya sambil memaki penyakit pelupa yang belakangan semakin parah.

“Ha ha ha, tante lucu kalau mikir gitu. Aku Suci, tanteeeeee. Yang dulu ngobrol sama tante di tempat ini juga, ya nggak di sini sih tepatnya, di sana tuh.” Jarinya lurus menunjuk ke arah buku-buku komik. Dan sepertinya Suci harus lebih berusaha keras untuk membuat saya mengingat dirinya hingga ia kemudian bersenandung,

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

Friends – 4

Hari ini, ijinkan saya menulis tentang seorang perempuan yang hingga saat ini berhasil membuat blog ini bertahan. Lho, kok bisa? Ya bisa lah, masa bisa dong, duren aja dibelah, bukan dibedong. Oke, jayusan lama. Mari stop sampai di sini.

Perempuan ini mulai menyapa saya di tahun 2009 (kalau saya tidak salah ingat), dan mulai rajin mengisi kolom komentar di tulisan-tulisan saya. Semua tulisan, tanpa terkecuali. Bahkan setelah tidak menulis untuk jangka waktu yang sangat lama dan akhirnya kembali menulis, saya tetap menerima notifikasi untuk menyetujui komentar baru yang masuk. Dan, saya selalu yakin komentar itu pasti datang dari orang yang sama.

Tidak hanya melalui komentar di blog, perempuan ini sangat rajin menyapa saya di email (meskipun hampir tidak pernah saya balas), dan tak pernah lupa memberitahu saya tentang apapun yang ia lakukan sepanjang hari itu melalui jendela YM yang sayangnya baru saya terima ketika pesan yang masuk merupakan pesan offline.

Ada beberapa hal yang sempat terpikirkan oleh saya tentang perempuan ini. Pertama, mungkin dia terobsesi oleh sosok Jo. Kedua, bisa jadi dia kurang kerjaan, jadi berkomunikasi satu arah merupakan hal yang tidak membuat dirinya merasa kecewa karena tidak berbalas. Ketiga, dia menganggap diri saya sebagai buku harian, sehingga dia bisa menceritakan apa saja yang ingin dia ceritakan tanpa merasa perlu saya merespon apapun yang ia ungkapkan. Dan masih banyak pemikiran lain yang kalau saya jabarkan satu per satu akan membuat saya berhasil menulis sebuah novel. Ya saya tahu, saya agak lebay kali ini.

(more…)

Read Full Post »

Suatu hari, entah karena kurang kerjaan atau karena tidak ingin terlalu memusingkan kemacetan sepanjang jalan menuju Cipanas, seorang kawan mengusulkan untuk bermain tebak-tebakan. Alasannya sih agar teman kami yang kebagian jatah nyetir tidak mengantuk. Sementara sisa kawan yang lain bersemangat menyetujui, yang keluar dari mulut saya hanya, “Hah?! Masih jaman ya hari gini tebak-tebakan?!?” dan berakhir dengan kedua tangan saya panik melindungi kepala saya dari serbuan tangan sadis mereka.

Awalnya saya mengganggap garing semua pertanyaan dari mereka satu per satu, namun lama kelamaan saya menikmati permainan ini. Apalagi ketika ada yang menjawab secara asal dan tidak pakai mikir, dan semuanya setuju ia dihukum. Hukumannya gak tanggung-tanggung. Disuruh turun ke jalan, memungut satu jenis sampah di jalan raya yang dibuang sembarangan oleh pengguna jalan lain untuk dibawa ke dalam mobil dan ditampung dalam sebuah plastik yang telah kami siapkan. Pramuka banget nggak sih?!? Untungnya saya sedikit cerdas dengan menawarkan diri untuk menggantikan teman yang menyetir secara “supir” tidak akan dihukum meskipun ia tidak menjawab. Saya tidak dapat membayangkan jika saya harus bolak balik keluar masuk mobil ketika pertanyaan yang dilontarkan adalah seputar pemeran film kartun Spongebob secara saya tidak tahu apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh Patrick dan teman-temannya melalui film mereka.

Perasaan saya mulai tidak enak ketika saya menyadari suasana di dalam mobil mulai sedikit hening. Saya sempat berpikir kawan-kawan saya mulai lelah atau bosan dengan permainan ini, namun tiba-tiba terdengar suara Asti.

(more…)

Read Full Post »

Songbird – 1

Insect_exhibit_-_Royal_Ontario_Museum_-_DSC00172“Kenapa kita ke sini sih, Jo?”

“Lho, katanya terserah kemana aja? Aku ajak ke sini eh malah protes…”

“Bukan protes, tapi bingung aja. Museum Zoologi?!? Ngapain juga kita jauh-jauh ke sini cuma liatin hewan?”

“Ya daripada tiap detik liatin angka, sesekali liatin serangga, hehehe…” Sahutku santai menjawab tanda tanya di dalam kepala Sukma.

Terdengar bunyi kerikil ketika ban mobilku bergerak memasuki area parker museum. Sepi. Mungkin karena anak-anak sekolah sudah selesai ujian dan memilih berlibur ke luar kota atau bahkan ke luar negeri.

 “Yuks, kita masuk!” Sukma melangkah malas sambil menutupi wajahnya dari silaunya sinar matahari yang hari itu sangat menyengat.

Memasuki ruang pertama museum, mataku liar menatap koleksi-koleksi hewan diawetkan. Kakiku berpindah dari satu display ke display lainnya.

“Bebi, siniiii! Kumbang yang ini bagus bangetttt!” Aku mematung. Kulihat di depanku ada dua perempuan. Rambutnya sama-sama panjang meskipun yang satu bergaya feminin dan yang lain bergaya andro. Si femme menarik tangan si andro dengan bersemangat. Sang andro dengan sukacita tak kalah bersemangat mengikuti kemanapun tangannya ditarik. Kulihat rona wajah mereka berdua ceria. Another couple? Pikirku. Konsentrasiku terpecah. Sebagian berusaha fokus dengan serangga-serangga yang ada di depanku, sebagian lagi otomatis tertarik menganalisa pasangan itu. Kuperhatikan Sukma yang asyik sendiri mengambil foto-foto di dalam museum.

“Kamu senang?” Sang andro menatap lekat wajah si femme seolah-olah wajah itu akan melumer kalau ia berpaling sepersekian detik saja.

(more…)

Read Full Post »

Dokter Pengganti

dentistBerbekal pengalaman diisengi oleh teman-teman ketika aku mengunjungi dokter mata, kali ini aku bertekad untuk mencari sendiri informasi mengenai dokter gigi yang kira-kira “aman” untuk melakukan tindakan terhadap gigi bungsuku yang semakin membuatku menderita. Om gugel seperti berbaik hati mengantarku ke sebuah klinik gigi bersama dan pilihanku jatuh pada seorang dokter pria yang menurut rekomendasi yang kudapatkan adalah dokter yang ahli mencabut gigi tanpa meninggalkan rasa nyeri.

Setelah mempersiapkan mental dan fisik, akhirnya aku berhasil bertemu dengan dokter Benjamin. Masih muda dan lumayan manis tapi rupanya termasuk pria yang tidak suka tebar pesona kemana-mana. Aman sepertinya kali ini, pikirku ketika pertama kali melihatnya. Saat itu juga setelah melihat kondisi gigiku, akhirnya kami sepakat bahwa gigi bungsu tersebut harus dicabut. Kanan dan kiri. Ya, keduanya. Saat itu aku rasanya seperti divonis hukuman setrum, meskipun tindakan pencabutan itu dilakukan bertahap. Rasanya tidak sia-sia aku datang kepada dokter Benjamin secara tidak sampai setengah jam, gigi bungsu kiriku berhasil tercabut dan saat itu juga aku dapat kembali ke kantor dan bekerja seperti semula. Tentu saja dengan pipi agak bengkak dan sanggup menyembunyikan lesung pipitku meskipun aku paksa untuk tersenyum.

(more…)

Read Full Post »

Player Penakut

Setelah lama tidak berkumpul bersama dengan teman-teman lesbian, akhirnya minggu lalu kami semua dapat bertemu. People changed, dan faktanya teman-temanku memang telah berubah, terutama secara fisik. Namun ada satu hal yang tidak berubah dari teman-temanku. Mereka tetap kreatif. Kreatif di sini bukan kreatif inovatif dan segenap tif tif lainnya. Tapi kreatif dalam hal ngerjain seseorang. Dan kali ini seseorang itu adalah aku.

Teman-temanku mengetahui bahwa menjadi lesbian jomblo bagi seorang Jo adalah sebuah hal yang sangat berat untuk dilakukan. Pasalnya Jo itu terkenal mata keranjang dan nggak bisa anteng kalau ada cewek bening lewat di depan mata. Padahal waktu itu aku betul-betul sakit mata lho.

(more…)

Read Full Post »

Hai, Jo. Apa kabar? Aku mampir ke blogmu tapi kayaknya udah lama banget gak pernah di-update ya. Jangan lama-lama dong patah hatinya. Masih banyak yang sayang kok sama kamu. Lagian ngapain juga kamu jadi kayak gini hanya karena seseorang yang udah memperlakukan kamu layaknya sampah yang cuma dipakai buat memenuhi kebutuhan biologis dia doang. Aku tunggu tulisan kamu yang inspiratif lagi ya. Best wishes 🙂

Email di atas aku terima kira-kira setengah jam yang lalu. Ketika membacanya hingga selesai, jujur, aku sudah tidak bisa lagi merasakan rasa sakit atau tersinggung. Mungkin sebagian orang yang dapat memahami arti “memperlakukan kamu layaknya sampah yang dipakai buat memenuhi kebutuhan biologis” akan mengernyitkan dahi, bertanya-tanya “Masa sih Jo mau diperlakukan seperti itu?” atau “Ah, gak mungkin, Jo kan smart jadi gak mungkin kalau dia diam aja diperlakukan seperti itu.” (more…)

Read Full Post »

Older Posts »