Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Faith’ Category

Masih ingat dengan malaikat kecil yang saya temui di sebuah toko buku dan kisahnya saya tuliskan di blog ini? Kalau tidak salah saya menuliskannya sekitar enam tahun yang lalu. Saya selalu percaya bahwa tuhan selalu bekerja melalui berbagai macam cara, termasuk melalui Suci.

Malam itu seharusnya saya berada di Paulaner Brauhaus, memenuhi undangan salah satu klien saya sambil membicarakan strategi yang harus ia lakukan untuk membayar hutang luar negeri perusahaannya. Namun berhubung ia masih harus menyelesaikan beberapa pertemuan dengan tamu-tamu perusahaan, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu saya sambil mencari novel-novel baru sebagai referensi saya untuk menulis. Saya berhenti di rak bagian buku-buku fiksi dan mulai membaca sinopsis satu per satu, sampai saya merasa ada tangan yang ragu-ragu menepuk punggung saya. Saya melihat ke arah sang empunya tangan dan menemukan seorang gadis remaja yang sedang tersenyum ramah. Tanpa sadar dahi saya mengernyit berusaha mengingat apakah saya pernah mengenalnya. Masa teman gue punya anak segede gini? Tua amat ya gue sekarang, ini pikir saya.

“Tante pasti lupa sama aku…” Senyum jahil mengembang di wajahnya.

Saya masih mencoba mengingat-ngingat namanya sambil memaki penyakit pelupa yang belakangan semakin parah.

“Ha ha ha, tante lucu kalau mikir gitu. Aku Suci, tanteeeeee. Yang dulu ngobrol sama tante di tempat ini juga, ya nggak di sini sih tepatnya, di sana tuh.” Jarinya lurus menunjuk ke arah buku-buku komik. Dan sepertinya Suci harus lebih berusaha keras untuk membuat saya mengingat dirinya hingga ia kemudian bersenandung,

(more…)

Read Full Post »

Friends – 2

yael-meyer-everything-will-be-alrightTime flies, people changed
Love never dies
But the person just falls into other girls
You died, once
You move on, twice
It’s a life

Saya mengutip puisi ini dari majalah online Sepocikopi sebanyak dua kali. Yang pertama ketika saya menulis sebuah artikel untuk Sepocikopi, dan yang kedua dalam artikel ini. Saya menyukai makna kata-kata dalam puisi ini. Apalagi bagi saya yang baru saja merasakan namanya patah hati (lagi).

Move on. Sepertinya kita sangat sering mendengar dua kata ini bahkan sering mengucapkannya ketika ada teman atau sahabat yang masih saja galau karena diputus oleh kekasihnya. Saya pribadi sering mengalami yang namanya move on ini sesering saya berganti kekasih. Bahkan dulu ketika saya masih aktif menulis sebagai blogger, saya sering menasehati pengunjung blog yang mencurahkan kegalauannya kepada saya untuk segera move on.

Menjadi seseorang yang sering menerima curahan hati dan memberikan nasehat panjang kali lebar kali tinggi, tak lantas mudah bagi saya ketika mengalami patah hati untuk kesekian kalinya. Seperti yang saya alami ketika saya berpisah dengan Z. Selama satu bulan pertama, saya menikmati rasa sakit dan berusaha mengumpulkan keberanian untuk menceritakannya kepada sahabat-sahabat terdekat yang mengetahui hubungan saya dengan Z.

Kedua sahabat terdekat saya memberikan dua respon berbeda. Sahabat pertama berkata “Oh, kenapa putus? Ada yang lain? Makanya jangan tepe-tepe terus, bejooo.”, sementara sahabat kedua lebih berperasaan. “Hah?! Kok bisa??? Aku pikir sama yang ini bisa awet lama, Joooo.” Setelah itu mereka sama-sama berkata, “Ya udah. Yang sabar ya, Jo. Nanti kamu juga bisa bangkit lagi seperti biasanya.” layaknya saya sering kehilangan ponsel dan dengan mudah mendapat gantinya lagi.

Setelah hampir setengah tahun berlalu, kami sesekali saling menyapa menanyakan kabar. Dan jawaban saya masih sama. Belum move on. Sahabat saya hanya tertawa dan yakin waktu akan menyembuhkan saya. Mereka sangat yakin saya sudah tahu semua hal yang harus dilakukan untuk bangkit dari keterpurukan jadi mereka tidak merasa harus repot memberikan petuah.

Saya tahu kali ini saya sulit untuk mengandalkan kekuatan diri saya. Alhasil saya menyapa dua orang teman yang jarang saya hubungi ketika saya masih bersama Z. Yup, bukan cuma kamu kok yang berpikir bahwa saya menghubungi mereka kalau saya ada maunya atau saya kesepian. Saya juga memiliki asumsi yang sama. Bahkan salah seorang dari mereka, Fi, dengan tegas meledek bahwa saya sedang memproklamirkan kejombloan saya.

Kalau mau dibilang menyiksa diri, mungkin saya sedang menguji kemasokisan saya dengan tetap bertahan berkomunikasi dengan Fi. Fi seorang perempuan hetero. Satu-satunya hetero yang mengetahui keberadaan saya di dunia nyata dan saya sebagai Jo. Ia tidak menerima segala jenis drama, jadi mencurahkan hati kepadanya merupakan hal terakhir yang paling mungkin untuk saya lakukan. Fi jelas-jelas berkata bahwa mengalihkan kesedihan dengan cara mendekatinya adalah hal yang sia-sia karena tidak akan membuat saya move on.

Ketika saya bertanya kepadanya cara apa yang paling ampuh untuk membuat saya bisa move on, ia dengan santai menjawab, “Nikmati saja, Jo. Nangis saja sampai airmata nggak keluar lagi. Karaoke lagu-lagu patah hati. Lama-lama kamu bakalan capek sendiri kok.” Bisa dikatakan saya cukup “beruntung” bisa menerima tamparan seperti ini di tengah-tengah masa kebangkitan saya. Kali ini saya meletakkan semua harga diri saya dengan mengikuti semua yang dikatakan oleh Fi.

Saya menikmati semua kesakitan saya. Membuka tas perjalanan berisi tiket dan pesanan hotel kedaluwarsa yang tidak pernah saya gunakan. Melihat lembar paspor berisi persetujuan visa ke negara yang tidak jadi saya kunjungi. Saya mengambil tiket dan lembar pesanan hotel untuk saya hancurkan di kantor. Membaca email-email dan percakapan lama saya dengan Z termasuk ketika saya mengirimkan anggur kesukaannya beserta bunga cokelat dan sebuah boneka beruang putih mini di hari jadi kami yang pertama. Saya mengernyit menahan rasa sakit ketika melihat kata-kata cinta yang Z ucapkan kepada saya. Lalu saya melihat percakapan kami sebulan setelahnya. Pertengkaran kami. Kalimat Z yang meminta maaf karena terpaksa memutuskan saya. Dalam waktu satu bulan dunia saya berubah 180 derajat.  Lalu saya mulai mendatangi tempat-tempat yang pernah kami kunjungi termasuk salah satu museum di Bogor, tempat pertama saya memberikan kejutan untuk Z.

Saya membuka draft akun gmail saya dan membaca kembali email yang tidak pernah saya kirimkan kepada Z. Email yang berisikan hal-hal yang saya tahu tentang Z selama kebersamaan kami. Hal yang selalu membuat Z merasa saya tidak menghargainya sebagai pasangan dan merasa saya tidak mengenalnya dengan baik. Dan membuat saya meringis karena ternyata hanya sedikit yang saya ketahui tentang Z dan membuat saya merasa tidak bisa menjadi pasangan yang baik untuk dirinya.

Perlahan, saya mencoba memperbaiki komunikasi saya dengan Z, sebagai teman. Berusaha menahan ego saya ketika tanggapan yang saya terima tidak sesuai dengan harapan saya. Dan puncaknya ketika saya pada akhirnya mengetahui sebuah hal yang membuat saya merasa tidak memiliki harapan lagi untuk kembali bersama Z, akhirnya saya menyerah.  Hari itu saya menangis sejadi-jadinya, merasakan suhu tubuh saya meningkat tajam, membuat saya harus terkapar di ranjang selama dua hari, dan menelan parasetamol berkali-kali.

Malam itu saya berdoa meminta kepada tuhan untuk tidak memberikan drama lagi dalam hidup saya. Saya tidak meminta tuhan untuk menghapuskan ingatan saya tentang kebersamaan saya bersama Z seperti yang pernah saya lakukan sebelumnya. Saya tidak meminta tuhan untuk memberikan saya pengganti Z. Saya tidak meminta tuhan untuk memberikan saya kekuatan menghadapi perasaan sedih ini.

Saya hanya meminta kepada tuhan agar Z dapat bahagia bersama siapapun yang mungkin bersamanya saat ini. Meminta tuhan memberikan kelancaran dan kemudahan baginya dan mengutus malaikat untuk selalu menjaganya karena saya tak bisa lagi menjaga dirinya.

So, saya harus berterima kasih kepada Fi, karena saya sadar, pada akhirnya saya hanya butuh satu kali saja untuk mengalami kematian. Namun saya meyakini diri saya untuk berkali-kali bangkit dari keterpurukan sebelum kematian itu tiba. Everything happened for a reason and life goes on, right?  Saya hanya perlu bersabar untuk mengetahui alasannya suatu hari nanti.

(more…)

Read Full Post »

Suatu hari, entah karena kurang kerjaan atau karena tidak ingin terlalu memusingkan kemacetan sepanjang jalan menuju Cipanas, seorang kawan mengusulkan untuk bermain tebak-tebakan. Alasannya sih agar teman kami yang kebagian jatah nyetir tidak mengantuk. Sementara sisa kawan yang lain bersemangat menyetujui, yang keluar dari mulut saya hanya, “Hah?! Masih jaman ya hari gini tebak-tebakan?!?” dan berakhir dengan kedua tangan saya panik melindungi kepala saya dari serbuan tangan sadis mereka.

Awalnya saya mengganggap garing semua pertanyaan dari mereka satu per satu, namun lama kelamaan saya menikmati permainan ini. Apalagi ketika ada yang menjawab secara asal dan tidak pakai mikir, dan semuanya setuju ia dihukum. Hukumannya gak tanggung-tanggung. Disuruh turun ke jalan, memungut satu jenis sampah di jalan raya yang dibuang sembarangan oleh pengguna jalan lain untuk dibawa ke dalam mobil dan ditampung dalam sebuah plastik yang telah kami siapkan. Pramuka banget nggak sih?!? Untungnya saya sedikit cerdas dengan menawarkan diri untuk menggantikan teman yang menyetir secara “supir” tidak akan dihukum meskipun ia tidak menjawab. Saya tidak dapat membayangkan jika saya harus bolak balik keluar masuk mobil ketika pertanyaan yang dilontarkan adalah seputar pemeran film kartun Spongebob secara saya tidak tahu apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh Patrick dan teman-temannya melalui film mereka.

Perasaan saya mulai tidak enak ketika saya menyadari suasana di dalam mobil mulai sedikit hening. Saya sempat berpikir kawan-kawan saya mulai lelah atau bosan dengan permainan ini, namun tiba-tiba terdengar suara Asti.

(more…)

Read Full Post »

Aku Tak Akan Menyerah

“Jangan menyerah, nak, karena ibu juga tak akan pernah menyerah. Berikan ibu kesempatan sekali lagi untuk mencintai dan memanjakan dirimu, nak. Tolong jangan menyerah.”

Kalimat di atas terucap dengan lirih dari mulut seorang ibu yang bayinya yang berusia sekitar dua tahun yang terbaring koma di sebuah rumah sakit di Cina.

Ya, tentu kita semua tahu tentang tragedi kecelakaan yang akhirnya menewaskan balita bernama Wang Yue. Kejadian yang tragis ini bahkan sampai detik ini masih mengundang kemarahan dunia karena sikap tak peduli yang ditunjukkan oleh 18 orang yang melewati tubuhnya yang tak berdaya. (more…)

Read Full Post »

Kalau ada yang bertanya “Apa yang paling kamu rindukan saat ini, Jo?”, sejujurnya ada satu hal yang sangat aku rindukan. Jalan-jalan bersama para sahabat yang mungkin saat ini telah memiliki kesibukan masing-masing. Pemikiran ini muncul ketika seorang sahabat memberikan kabar kalau ia sedang berada di sebuah pulau favoritku. Rasanya langsung ingin menangis secara jadwalku tidak memungkinkan untuk mengambil cuti liburan sampai satu tahun ke depan, hiks.

(more…)

Read Full Post »

Hai, Jo. Apa kabar? Aku mampir ke blogmu tapi kayaknya udah lama banget gak pernah di-update ya. Jangan lama-lama dong patah hatinya. Masih banyak yang sayang kok sama kamu. Lagian ngapain juga kamu jadi kayak gini hanya karena seseorang yang udah memperlakukan kamu layaknya sampah yang cuma dipakai buat memenuhi kebutuhan biologis dia doang. Aku tunggu tulisan kamu yang inspiratif lagi ya. Best wishes 🙂

Email di atas aku terima kira-kira setengah jam yang lalu. Ketika membacanya hingga selesai, jujur, aku sudah tidak bisa lagi merasakan rasa sakit atau tersinggung. Mungkin sebagian orang yang dapat memahami arti “memperlakukan kamu layaknya sampah yang dipakai buat memenuhi kebutuhan biologis” akan mengernyitkan dahi, bertanya-tanya “Masa sih Jo mau diperlakukan seperti itu?” atau “Ah, gak mungkin, Jo kan smart jadi gak mungkin kalau dia diam aja diperlakukan seperti itu.” (more…)

Read Full Post »

A Brand New Day

“Jumat malam ini ada waktu, Jo?”

Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan Asti melalui telepon. Ini permintaan keempat darinya setelah tiga permintaan sebelumnya telah kupenuhi.

“Siapa lagi yang mau elo kenalin ke gue, As?” Aku yakin Asti dapat mendengar helaan nafasku dengan jelas.

“Kok gitu sih ngomongnya, Jo? Gue kan nggak dengan sengaja ngundang elo buat gue kenalin ke teman-teman gue. Kebetulan aja pas kita lagi ketemuan ada aja teman gue yang nyamperin.”

“Yeah, right!”

“Ayolah, Jo. Lagian malam minggu ngapain sih ngendon di rumah. Otak elo dipake tidur kelamaan juga bakal mampet lama-lama tau.” (more…)

Read Full Post »

Older Posts »