Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Romance’ Category

I Let You Go, Z….

4203709869_7177d30b8eSejak delapan bulan lalu saya selalu mengibaratkan hubungan saya dengan Z seperti menunggu seseorang yang tengah sakit dan terbaring koma dan selama beberapa bulan ini hidup dengan  ditunjang alat bantuan medis.

Harapan dan rasa ingin menyerah.

Dua kata itu yang selalu membuat saya bimbang sejak Z memutuskan hubungan kami melalui BBM. Seorang sahabat mengatakan bahwa saya tidak seharusnya bersikap seperti ini. Dan jawaban saya tetap sama. Saya tidak mau menyerah saat ini. Saya hanya butuh sebuah keajaiban. Meskipun berkali-kali saya sesumbar bahwa saya harus melanjutkan hidup, saya tahu bahwa saya tidak bisa “mencabut” semua alat bantu medis yang ada dan membiarkan hubungan saya yang “koma” pergi begitu saja. Tidak, kecuali Z yang ingin pergi, dan saya harus mendengarnya langsung dari mulutnya, tidak melalui BBM.

(more…)

Read Full Post »

Friends – 2

yael-meyer-everything-will-be-alrightTime flies, people changed
Love never dies
But the person just falls into other girls
You died, once
You move on, twice
It’s a life

Saya mengutip puisi ini dari majalah online Sepocikopi sebanyak dua kali. Yang pertama ketika saya menulis sebuah artikel untuk Sepocikopi, dan yang kedua dalam artikel ini. Saya menyukai makna kata-kata dalam puisi ini. Apalagi bagi saya yang baru saja merasakan namanya patah hati (lagi).

Move on. Sepertinya kita sangat sering mendengar dua kata ini bahkan sering mengucapkannya ketika ada teman atau sahabat yang masih saja galau karena diputus oleh kekasihnya. Saya pribadi sering mengalami yang namanya move on ini sesering saya berganti kekasih. Bahkan dulu ketika saya masih aktif menulis sebagai blogger, saya sering menasehati pengunjung blog yang mencurahkan kegalauannya kepada saya untuk segera move on.

Menjadi seseorang yang sering menerima curahan hati dan memberikan nasehat panjang kali lebar kali tinggi, tak lantas mudah bagi saya ketika mengalami patah hati untuk kesekian kalinya. Seperti yang saya alami ketika saya berpisah dengan Z. Selama satu bulan pertama, saya menikmati rasa sakit dan berusaha mengumpulkan keberanian untuk menceritakannya kepada sahabat-sahabat terdekat yang mengetahui hubungan saya dengan Z.

Kedua sahabat terdekat saya memberikan dua respon berbeda. Sahabat pertama berkata “Oh, kenapa putus? Ada yang lain? Makanya jangan tepe-tepe terus, bejooo.”, sementara sahabat kedua lebih berperasaan. “Hah?! Kok bisa??? Aku pikir sama yang ini bisa awet lama, Joooo.” Setelah itu mereka sama-sama berkata, “Ya udah. Yang sabar ya, Jo. Nanti kamu juga bisa bangkit lagi seperti biasanya.” layaknya saya sering kehilangan ponsel dan dengan mudah mendapat gantinya lagi.

Setelah hampir setengah tahun berlalu, kami sesekali saling menyapa menanyakan kabar. Dan jawaban saya masih sama. Belum move on. Sahabat saya hanya tertawa dan yakin waktu akan menyembuhkan saya. Mereka sangat yakin saya sudah tahu semua hal yang harus dilakukan untuk bangkit dari keterpurukan jadi mereka tidak merasa harus repot memberikan petuah.

Saya tahu kali ini saya sulit untuk mengandalkan kekuatan diri saya. Alhasil saya menyapa dua orang teman yang jarang saya hubungi ketika saya masih bersama Z. Yup, bukan cuma kamu kok yang berpikir bahwa saya menghubungi mereka kalau saya ada maunya atau saya kesepian. Saya juga memiliki asumsi yang sama. Bahkan salah seorang dari mereka, Fi, dengan tegas meledek bahwa saya sedang memproklamirkan kejombloan saya.

Kalau mau dibilang menyiksa diri, mungkin saya sedang menguji kemasokisan saya dengan tetap bertahan berkomunikasi dengan Fi. Fi seorang perempuan hetero. Satu-satunya hetero yang mengetahui keberadaan saya di dunia nyata dan saya sebagai Jo. Ia tidak menerima segala jenis drama, jadi mencurahkan hati kepadanya merupakan hal terakhir yang paling mungkin untuk saya lakukan. Fi jelas-jelas berkata bahwa mengalihkan kesedihan dengan cara mendekatinya adalah hal yang sia-sia karena tidak akan membuat saya move on.

Ketika saya bertanya kepadanya cara apa yang paling ampuh untuk membuat saya bisa move on, ia dengan santai menjawab, “Nikmati saja, Jo. Nangis saja sampai airmata nggak keluar lagi. Karaoke lagu-lagu patah hati. Lama-lama kamu bakalan capek sendiri kok.” Bisa dikatakan saya cukup “beruntung” bisa menerima tamparan seperti ini di tengah-tengah masa kebangkitan saya. Kali ini saya meletakkan semua harga diri saya dengan mengikuti semua yang dikatakan oleh Fi.

Saya menikmati semua kesakitan saya. Membuka tas perjalanan berisi tiket dan pesanan hotel kedaluwarsa yang tidak pernah saya gunakan. Melihat lembar paspor berisi persetujuan visa ke negara yang tidak jadi saya kunjungi. Saya mengambil tiket dan lembar pesanan hotel untuk saya hancurkan di kantor. Membaca email-email dan percakapan lama saya dengan Z termasuk ketika saya mengirimkan anggur kesukaannya beserta bunga cokelat dan sebuah boneka beruang putih mini di hari jadi kami yang pertama. Saya mengernyit menahan rasa sakit ketika melihat kata-kata cinta yang Z ucapkan kepada saya. Lalu saya melihat percakapan kami sebulan setelahnya. Pertengkaran kami. Kalimat Z yang meminta maaf karena terpaksa memutuskan saya. Dalam waktu satu bulan dunia saya berubah 180 derajat.  Lalu saya mulai mendatangi tempat-tempat yang pernah kami kunjungi termasuk salah satu museum di Bogor, tempat pertama saya memberikan kejutan untuk Z.

Saya membuka draft akun gmail saya dan membaca kembali email yang tidak pernah saya kirimkan kepada Z. Email yang berisikan hal-hal yang saya tahu tentang Z selama kebersamaan kami. Hal yang selalu membuat Z merasa saya tidak menghargainya sebagai pasangan dan merasa saya tidak mengenalnya dengan baik. Dan membuat saya meringis karena ternyata hanya sedikit yang saya ketahui tentang Z dan membuat saya merasa tidak bisa menjadi pasangan yang baik untuk dirinya.

Perlahan, saya mencoba memperbaiki komunikasi saya dengan Z, sebagai teman. Berusaha menahan ego saya ketika tanggapan yang saya terima tidak sesuai dengan harapan saya. Dan puncaknya ketika saya pada akhirnya mengetahui sebuah hal yang membuat saya merasa tidak memiliki harapan lagi untuk kembali bersama Z, akhirnya saya menyerah.  Hari itu saya menangis sejadi-jadinya, merasakan suhu tubuh saya meningkat tajam, membuat saya harus terkapar di ranjang selama dua hari, dan menelan parasetamol berkali-kali.

Malam itu saya berdoa meminta kepada tuhan untuk tidak memberikan drama lagi dalam hidup saya. Saya tidak meminta tuhan untuk menghapuskan ingatan saya tentang kebersamaan saya bersama Z seperti yang pernah saya lakukan sebelumnya. Saya tidak meminta tuhan untuk memberikan saya pengganti Z. Saya tidak meminta tuhan untuk memberikan saya kekuatan menghadapi perasaan sedih ini.

Saya hanya meminta kepada tuhan agar Z dapat bahagia bersama siapapun yang mungkin bersamanya saat ini. Meminta tuhan memberikan kelancaran dan kemudahan baginya dan mengutus malaikat untuk selalu menjaganya karena saya tak bisa lagi menjaga dirinya.

So, saya harus berterima kasih kepada Fi, karena saya sadar, pada akhirnya saya hanya butuh satu kali saja untuk mengalami kematian. Namun saya meyakini diri saya untuk berkali-kali bangkit dari keterpurukan sebelum kematian itu tiba. Everything happened for a reason and life goes on, right?  Saya hanya perlu bersabar untuk mengetahui alasannya suatu hari nanti.

(more…)

Read Full Post »

Songbird – 2

“Hari ini kita mau makan di mana, Jo?”

“Udah, jalan aja. Nanti kutunjukkin tempatnya, hehehe.”

Mobil yang dikemudikan Z mengarah ke arah Jalan Diponegoro, hingga berhenti di persimpangan lampu merah lepas dari Jalan Imam Bonjol.

Sambil menunggu lampu menjadi hijau, aku menunjuk gedung tua di sebelah kiri setelah persimpangan, “Nanti kalau sudah hijau, kita ambil jalur kiri, terus masuk ke komplek gedung itu ya, Z.”

“Haaaahhhhhhh!!! Gedung itu, Jo?!?”

Terkejut mendengar Z berteriak, sontak aku menatapnya panik, “Kenapa, Z? Eh, gak jadi ke sana juga gak apa-apa kokkk.”

“Joooooo, aku udah lama banget mau ke gedung ituuuuu. Tapi selama ini teman-temanku gak ada yang mau diajak ke sanaaaaa. Senenggggggg.” Z memelukku dan baru melepaskannya setelah klakson mobil di belakang kami berkali-kali bersuara membuat kami tertawa.

Memasuki komplek gedung tua tersebut, aku bisa melihat binar-binar antusias di wajah Z layaknya anak yang baru saja mendapatkan mainan kesenangannya. Selesai memarkirkan kendaraan, kami turun dan berjalan menuju sebuah rumah makan yang terkenal dengan kelezatan ayam bakarnya.

Bahagia itu sederhana, sesederhana menemani Z ke tempat-tempat yang ingin ia kunjungi namun belum pernah tercapai karena tidak ada yang menemaninya.

Read Full Post »

writing-letterDua bulan berlalu sejak kata break terucap dari bibir manismu, entah mengapa rasanya tidak ada yang berubah dengan hatiku. Selama dua bulan ini aku mencoba mencari perasaan benci dan memaksa otak untuk meluapkan amarah, namun aku tak dapat menemukannya. Hatiku seolah berkhianat setiap saat otakku memohon untuk melupakan dirimu. Memohon agar aku dapat mengabaikan pertanyaan yang selalu hadir setiap saat aku bernafas. Apakah kamu di sana baik-baik saja, apakah kamu makan dan tidur dengan teratur, dan seabrek pertanyaan lainnya.

Kata mereka, seseorang tak akan pernah dapat melupakan saat pertama ia bertemu dengan kekasihnya. Mereka benar. Bahkan ketika aku ingin melupakan semuanya, selalu saja muncul ingatan ketika aku membuka pintu mobil hendak masuk menemuimu yang duduk manis di belakang kemudi. Kita berjabat tangan, saling memperkenalkan diri, sama-sama merasa salah tingkah sekaligus antusias karena akhirnya kita bertemu setelah empat tahun kita hanya saling menyapa di ruang maya.

(more…)

Read Full Post »

Hampir sebagian besar dari kita menyadari bahwa yang namanya up-grading itu lebih mudah daripada down-grading. Tidak percaya? Mari kita buktikan.

Kalau dulu biasanya kamu terbiasa berjalan kaki hingga kiloan meter untuk bersekolah kemudian suatu hari kamu dibelikan oleh orangtuamu sebuah sepeda motor, wah rasanya pasti senang ya. Jarak tempuh akan semakin tak terasa dan perjalanan pun bisa kamu tempuh dengan lebih cepat. Lalu setelah lulus sekolah, kamu bekerja di sebuah perusahaan bergengsi dan memberikan kamu fasilitas sebuah kendaraan yang cukup nyaman meskipun bukan kendaraan mewah. Wah, lebih enak lagi kan? Tidak akan kepanasan karena ada AC, tidak perlu kebasahan kalau hujan, dan bisa mejeng dugem sana dan sini.

(more…)

Read Full Post »

“Selamat ulang tahun, Pit.”

Aku terlonjak duduk dan menyalakan lampu. “Idan! Untuk apa kau sepagi ini di kamarku!”

“Memberimu selamat ulang tahun,” jawabnya polos. Dan ia bangkit dari kursinya di sisi  tempat tidur dan menarikku hingga berdiri.

“Ayo! Aku mau menunjukkan hadiah ulang tahunmu dariku!” Ia menyeretku ke ruang kerja dan menyuruhku duduk di depan komputerku. Ada dua komputer di ruangan itu,  satu milik Idan, yang sarat dengan berbagai programming software yang digunakannya untuk bekerja. Dan satu lagi milikku, lebih sederhana dan tidak secanggih milik Idan. (more…)

Read Full Post »

Suaranya bergetar. “Saya terima nikahnya Puspita Kirana binti Anwar Daud dengan mas kawin tersebut, tunai.” Dan wajahnya kelihatan sedikit pucat. Berapa lama ia tidur semalam? Apa ia terjaga berjam-jam dalam gelap, memikirkan lelucon terbesarnya, seperti aku yang nyalang nyaris sepanjang malam tadi?

Ibuku meneteskan air mata sementara senyum lebar memenuhi wajahnya. Ibu Idan, walau menyaksikan dari kursi rodanya, juga tampak bahagia. Seharusnya aku juga bahagia hari ini. Idan juga. Mungkin dengan orang-orang lain. Tapi seharusnya aku merasa bahagia. Bukan diam-diam mencatat seperti seorang ilmuwan yang teliti: perasaanku, reaksi para tamu, wangi melati dan wajah Pak Penghulu. Pak Penghulu menyuruhku menyalami suami baruku. (Simulasi, Upit, jangan lupa itu. Suami baru simulasi.)

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »