Feeds:
Posts
Comments

Songbird – 2

“Hari ini kita mau makan di mana, Jo?”

“Udah, jalan aja. Nanti kutunjukkin tempatnya, hehehe.”

Mobil yang dikemudikan Z mengarah ke arah Jalan Diponegoro, hingga berhenti di persimpangan lampu merah lepas dari Jalan Imam Bonjol.

Sambil menunggu lampu menjadi hijau, aku menunjuk gedung tua di sebelah kiri setelah persimpangan, “Nanti kalau sudah hijau, kita ambil jalur kiri, terus masuk ke komplek gedung itu ya, Z.”

“Haaaahhhhhhh!!! Gedung itu, Jo?!?”

Terkejut mendengar Z berteriak, sontak aku menatapnya panik, “Kenapa, Z? Eh, gak jadi ke sana juga gak apa-apa kokkk.”

“Joooooo, aku udah lama banget mau ke gedung ituuuuu. Tapi selama ini teman-temanku gak ada yang mau diajak ke sanaaaaa. Senenggggggg.” Z memelukku dan baru melepaskannya setelah klakson mobil di belakang kami berkali-kali bersuara membuat kami tertawa.

Memasuki komplek gedung tua tersebut, aku bisa melihat binar-binar antusias di wajah Z layaknya anak yang baru saja mendapatkan mainan kesenangannya. Selesai memarkirkan kendaraan, kami turun dan berjalan menuju sebuah rumah makan yang terkenal dengan kelezatan ayam bakarnya.

Bahagia itu sederhana, sesederhana menemani Z ke tempat-tempat yang ingin ia kunjungi namun belum pernah tercapai karena tidak ada yang menemaninya.

writing-letterDua bulan berlalu sejak kata break terucap dari bibir manismu, entah mengapa rasanya tidak ada yang berubah dengan hatiku. Selama dua bulan ini aku mencoba mencari perasaan benci dan memaksa otak untuk meluapkan amarah, namun aku tak dapat menemukannya. Hatiku seolah berkhianat setiap saat otakku memohon untuk melupakan dirimu. Memohon agar aku dapat mengabaikan pertanyaan yang selalu hadir setiap saat aku bernafas. Apakah kamu di sana baik-baik saja, apakah kamu makan dan tidur dengan teratur, dan seabrek pertanyaan lainnya.

Kata mereka, seseorang tak akan pernah dapat melupakan saat pertama ia bertemu dengan kekasihnya. Mereka benar. Bahkan ketika aku ingin melupakan semuanya, selalu saja muncul ingatan ketika aku membuka pintu mobil hendak masuk menemuimu yang duduk manis di belakang kemudi. Kita berjabat tangan, saling memperkenalkan diri, sama-sama merasa salah tingkah sekaligus antusias karena akhirnya kita bertemu setelah empat tahun kita hanya saling menyapa di ruang maya.

Continue Reading »

Songbird – 1

Insect_exhibit_-_Royal_Ontario_Museum_-_DSC00172“Kenapa kita ke sini sih, Jo?”

“Lho, katanya terserah kemana aja? Aku ajak ke sini eh malah protes…”

“Bukan protes, tapi bingung aja. Museum Zoologi?!? Ngapain juga kita jauh-jauh ke sini cuma liatin hewan?”

“Ya daripada tiap detik liatin angka, sesekali liatin serangga, hehehe…” Sahutku santai menjawab tanda tanya di dalam kepala Sukma.

Terdengar bunyi kerikil ketika ban mobilku bergerak memasuki area parker museum. Sepi. Mungkin karena anak-anak sekolah sudah selesai ujian dan memilih berlibur ke luar kota atau bahkan ke luar negeri.

 “Yuks, kita masuk!” Sukma melangkah malas sambil menutupi wajahnya dari silaunya sinar matahari yang hari itu sangat menyengat.

Memasuki ruang pertama museum, mataku liar menatap koleksi-koleksi hewan diawetkan. Kakiku berpindah dari satu display ke display lainnya.

“Bebi, siniiii! Kumbang yang ini bagus bangetttt!” Aku mematung. Kulihat di depanku ada dua perempuan. Rambutnya sama-sama panjang meskipun yang satu bergaya feminin dan yang lain bergaya andro. Si femme menarik tangan si andro dengan bersemangat. Sang andro dengan sukacita tak kalah bersemangat mengikuti kemanapun tangannya ditarik. Kulihat rona wajah mereka berdua ceria. Another couple? Pikirku. Konsentrasiku terpecah. Sebagian berusaha fokus dengan serangga-serangga yang ada di depanku, sebagian lagi otomatis tertarik menganalisa pasangan itu. Kuperhatikan Sukma yang asyik sendiri mengambil foto-foto di dalam museum.

“Kamu senang?” Sang andro menatap lekat wajah si femme seolah-olah wajah itu akan melumer kalau ia berpaling sepersekian detik saja.

Continue Reading »

Dokter Pengganti

dentistBerbekal pengalaman diisengi oleh teman-teman ketika aku mengunjungi dokter mata, kali ini aku bertekad untuk mencari sendiri informasi mengenai dokter gigi yang kira-kira “aman” untuk melakukan tindakan terhadap gigi bungsuku yang semakin membuatku menderita. Om gugel seperti berbaik hati mengantarku ke sebuah klinik gigi bersama dan pilihanku jatuh pada seorang dokter pria yang menurut rekomendasi yang kudapatkan adalah dokter yang ahli mencabut gigi tanpa meninggalkan rasa nyeri.

Setelah mempersiapkan mental dan fisik, akhirnya aku berhasil bertemu dengan dokter Benjamin. Masih muda dan lumayan manis tapi rupanya termasuk pria yang tidak suka tebar pesona kemana-mana. Aman sepertinya kali ini, pikirku ketika pertama kali melihatnya. Saat itu juga setelah melihat kondisi gigiku, akhirnya kami sepakat bahwa gigi bungsu tersebut harus dicabut. Kanan dan kiri. Ya, keduanya. Saat itu aku rasanya seperti divonis hukuman setrum, meskipun tindakan pencabutan itu dilakukan bertahap. Rasanya tidak sia-sia aku datang kepada dokter Benjamin secara tidak sampai setengah jam, gigi bungsu kiriku berhasil tercabut dan saat itu juga aku dapat kembali ke kantor dan bekerja seperti semula. Tentu saja dengan pipi agak bengkak dan sanggup menyembunyikan lesung pipitku meskipun aku paksa untuk tersenyum.

Continue Reading »

Player Penakut

Setelah lama tidak berkumpul bersama dengan teman-teman lesbian, akhirnya minggu lalu kami semua dapat bertemu. People changed, dan faktanya teman-temanku memang telah berubah, terutama secara fisik. Namun ada satu hal yang tidak berubah dari teman-temanku. Mereka tetap kreatif. Kreatif di sini bukan kreatif inovatif dan segenap tif tif lainnya. Tapi kreatif dalam hal ngerjain seseorang. Dan kali ini seseorang itu adalah aku.

Teman-temanku mengetahui bahwa menjadi lesbian jomblo bagi seorang Jo adalah sebuah hal yang sangat berat untuk dilakukan. Pasalnya Jo itu terkenal mata keranjang dan nggak bisa anteng kalau ada cewek bening lewat di depan mata. Padahal waktu itu aku betul-betul sakit mata lho.

Continue Reading »

A New Day Has Come

Tahukah kamu hal yang paling sulit dalam menulis? Memulai. Itu jawaban yang bisa aku temukan setelah sekian lama mencoba menulis kembali. Memulai untuk menulis ternyata sangatlah sulit. Ada yang pernah bilang kalau ide ada dimana-mana, ada juga yang pernah bilang kalau menulis itu gak usah mikir langsung aja mulai. Hmm, kenyataannya gak semudah itu. Ide memang ada dimana-mana, tapi begitu buka laptop menatap monitor, wushhhh, langsung tuh ide menguap entah kemana. Setiap mau mulai nulis juga emang gak mau pake mikir tapi ujung jari nyentuh tombol keyboard ehh tuh otak malah rajin mikir he he he.

Continue Reading »

Aku Tak Akan Menyerah

“Jangan menyerah, nak, karena ibu juga tak akan pernah menyerah. Berikan ibu kesempatan sekali lagi untuk mencintai dan memanjakan dirimu, nak. Tolong jangan menyerah.”

Kalimat di atas terucap dengan lirih dari mulut seorang ibu yang bayinya yang berusia sekitar dua tahun yang terbaring koma di sebuah rumah sakit di Cina.

Ya, tentu kita semua tahu tentang tragedi kecelakaan yang akhirnya menewaskan balita bernama Wang Yue. Kejadian yang tragis ini bahkan sampai detik ini masih mengundang kemarahan dunia karena sikap tak peduli yang ditunjukkan oleh 18 orang yang melewati tubuhnya yang tak berdaya. Continue Reading »